Fatmawati: Penjahit Bendera Pusaka yang Menginspirasi Bangsa

Mencontek Official

Bendera Merah Putih tidak hanya sekadar simbol negara, tetapi juga lambang perjuangan dan semangat yang tak terpadamkan dari rakyat Indonesia. Di balik kibaran Sang Saka Merah Putih, terdapat kisah heroik seorang wanita yang dengan penuh dedikasi menjahit bendera tersebut, yaitu Ibu Fatmawati, istri Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.

Latar Belakang dan Sejarah Bendera Merah Putih

Warna merah melambangkan keberanian, sementara putih adalah simbol kesucian. Bendera ini memiliki kedudukan khusus dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 35 yang menyatakan, "Bendera Negara Indonesia ialah Sang Merah Putih." Lebih lanjut, kedudukan bendera negara diperkuat melalui Undang-Undang No.24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan.

Sebelum diakui sebagai bendera kebangsaan, Sang Saka Merah Putih telah memiliki riwayat panjang dalam sejarah Nusantara. Buku "Mengenal Indonesia: Aku Cinta Indonesia, Tak Kenal Maka Tak Sayang" (2019:30) oleh Boli Sabon Max, mengungkapkan bahwa bendera ini merupakan lambang semangat perjuangan Indonesia untuk terlepas dari penjajahan Belanda.

Fatmawati: Sang Penjahit Bendera Pusaka

Fatmawati, lahir di Bengkulu pada 5 Februari 1923, dikenal akan jasanya dalam menjahit Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih yang dikibarkan pada upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945. Dengan bantuan Chaerul Basri, seorang pemuda asal Bukit Tinggi, Sumatera Barat, Fatmawati meminta kain merah dan putih kepada Shimizu, pimpinan barisan Propaganda Jepang Gerakan Tiga A, untuk menjahit bendera tersebut.

Menurut laman Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Ibu Fatmawati menjahit bendera Merah Putih dengan mesin jahit tangan di ruang tamu rumahnya. Pada saat itu, Sukarno bersama tokoh lain sedang mempersiapkan perlengkapan yang akan digunakan untuk momen pembacaan naskah teks proklamasi. Mendengar bahwa bendera Indonesia belum tersedia, Fatmawati memutuskan untuk menjahit Bendera Indonesia.

Warisan dan Penghormatan

Fatmawati tidak hanya dikenang sebagai penjahit bendera pusaka tetapi juga sebagai Ibu Negara yang mendampingi Presiden Soekarno dari tahun 1945 hingga 1967. Ia meninggal dunia pada tanggal 14 Mei 1980 di Kuala Lumpur, Malaysia, dan dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta.

Kisah Fatmawati dan bendera Merah Putih mengajarkan kita tentang pentingnya peran setiap individu dalam membangun bangsa. Setiap jahitan pada bendera tersebut bukan hanya menyatukan dua warna, tetapi juga menyatukan hati dan semangat seluruh rakyat Indonesia untuk meraih kemerdekaan dan kedaulatan.

Also Read

Bagikan:

Tags

Tinggalkan komentar